Pasti orang akan setuju kalau Internet dikategorikan sebagai teknologi yang sukses. Terbukti setelah 40 tahun keberadaannya Internet telah terbentang di seluruh dunia. Dampaknya … banyak ….. mulai dampak positif maupun negatif (tapi kita tidak akan membicarakan hal ini secara detil… perhaps sometime) misalnya: komunikasi jadi lebih mudah…bayar ‘utang’ maupun ngutangpun dapat mudah dilakukan (..I love it), mo ngambil uang.. tinggal pergi ke ATM dengan bermodal ‘kartu plastik’, kirim surat sdh digantii email (tuu kantor pos jadi sepi – perangko sdh sepi pembeli) Buanyaak lagi contoh kegunaanya.
Akibat perkembangan yang sangat pesat ini timbul suatu masalah … apa itu.. coba kita analogikan dengan cerita berikut:
Kota, misalnya Sekayu, berkembang pesat…sehingga nomor telpon dari kode area Sekayu tidak cukup lagi (digitnya sdh kurang). Apa yang akan dilakukan oleh Perusahaan Telpon (Anggap la.. SkyTel). Ada 4 cara (Conrad, 2011) yang mungkin dapat dilakukan oleh SkyTel yaitu
- Menghentikan layanan sambungan Baru (waah sayang buangget);
- Meminta orang/kantor menyediakan layanan extension (berarti pakai PABX);
- Menginventarisir nomor telpon yang tidak terpakai (idle) dan mengalokasikan kembali untuk pelanggan baru; atau
- Menambahkan digit telpon atau kode area.
Kalau dilihat dari fakta yang ada, pilihan ke 4 paling mungkin. Meskipun awalnya ada kebingungan disisi pengguna tapi ini terbukti berhasil.
Nah kita kembali lagi ke cerita Internet. Sekarang ini Internet lebih kurang mengalami hal yang sama dengan analogi diatas. Jumlah alamat yang ada sekitar 4,3 milyar alamat. Angka yang besar, cuma masih tidak dapat mengakomodir pertumbuhan penggunaan Internet. Diperkirakan tiga-empat tahun kedepan alamat (IPv4 namanya) itu akan habis bahkan APNIC sudah tidak mengalokasikan lagi alamat ini. Jika kita modifikasi pendekatan telpon diatas maka kemungkinannya:
- Hentikan pertumbuhan Internet;
- Buat alamat extension (private address);
- Periksa lagi alamat yang tidak terpakai dan bias dialokasikan ke pelanggan baru; atau
- Total jumlah alamat diperbanyak.
Pilihan pertama jelas tidak mungkin. Internet terlalu penting (not manis) untuk ‘dilupakan’. Disini muncul perdebatan apakah Jumlah alamat Internet (jumlah IP) harus diupgrade alias ditambah atau cuma perlu penambahan kombinasi private address serta merecover alamat-alamat yang tidak terpakai untuk memenuhi permintaan alokasi baru.
Opsi kedua yang saat ini banyak ditempuh yaitu dengan penambahan extension IP (penambahan IP Private) yang dikenal dengan nama Network Address Translation (NAT). Seperti di banyak kantor, hanya menggunakan satu no telpon dan diperbanyak menggunakan ekstensi, begitu juga dengan NAT, satu nomor public dipakai secara bersama-sama oleh banyak computer. NAT ini cukup berhasil, kebanyakan pengguna Internet memanfaatkan teknologi ini. NAT berfungsi sebagai ‘operator’ yang mem-forward panggilan ke computer dijaringan Internal.
Permasalahannya, NAT bukan merupakan solusi jangka panjang. It’s ok untuk saat ini (sebagian juga mengatakan ok juga untuk ke depan). Disamping itu, hakekat komunikasi itu adalah hubungan dari satu titik ke titik lain secara langsung… bukan dari satu titik, singgah dulu ke titik tertentu baru disambungkan ke titik tujuan. Belum lagi jika kita lihat dari sisi keamanan, kualias, dan aspek lainnya (kelihatannya nanti kita bahas secara khusus tentang NAT ini …setuju!!). Saya jadi inget ketika teman sekantor ‘mencuri dengar’ percakapan antara teman lainnya dengan someone di luar…. Bahaya tu.. (itu di telpon dengan PABX-nya) semua terdengar jelas….. hal sama sangat mungkin terjadi dengan NAT.
Pilihan ketiga, cari alamat yang tidak termanfaatkan. Secara Etika, barang yang sudah dibeli (..anggap saja) susah la mau dipinta lagi…urusan yang beli la mau dipakai atau tidak. Secara ekonomi, kalaupun orangnya mau..apa mau dia dengan harga yang ‘sincai-la’. Memang IP sekarang masih tergolong ‘murah’ (lihat APNIC atau IDNIC) cuma itu untuk area tertentu..dan atau coba lihat Microsoft spends $7.5m on IPv4 net addresses (BBC News, 2011). Microsoft menawar $11.25 per alamat IP. Gimana kalau IP memang sudah habiss… berapa bisa harganya ….
Opsi yang terakhir menambahkan jumlah total IP address – ini yang paling menarik juga paling susah. Pertama, paling menarik karena jika kita mengambil contoh penambahan digit telpon tadi, maka sudah terbukti berhasil. Cuma penambahanan itu tentunya juga ada dampaknya, misalnya perlunya upgrading peralatan, sosialisasi, pelatihan teknisi dll. Kedua susah, perubahan IPv4 ke versi terbaru (IPv6), pasti membutuhkan effort yang tidak sedikit apalagi sebagian besar infrastuktur Internet berbasiskan IPv4 dan IPv6 tidak kompatibel dengan IPv4. Tentu biaya yang sangat besar. Kalau dari sisi ketersediaan alamat IP tentunya IPv6 sangat jauh dibandingkan IPv4 (4.3 milyar). Bahkan ada yang mengatakan dengan IPv6 (3,4 triliun triliun triliun) walaupun setiap pasir diberi alamat IP, masih cukup….
Kritiknya, tak sama ya analogi telpon dengan IPv6. Penambahan digit telp kan cuma berimbas di ‘Sekayu’ tadi bukan seluruh dunia. La penambahan Digit IP impactnya ke seluruh dunia. Coba pikirkan …celaka juga kalau kita main internet disamakan dengan nelpon…bisa tambah cepat besar perusahaan telco manakala tiap akses internet harus SLI or SLJJ terus :-d. (Thanks for the Internet, you have made my communication to all people on around the globe almost free)
Perpindahan IPv4 ke IPv6 hanya menunggu waktu. Semakin internet menjadi besar, maka semakin cepat pula alamat yang tersisa ..habis. Permasalahannya, apakah kita harus menunggu dulu habis..baru pindah. Jawaban yang bijak tentunya kita harus mengantisipasi datangnya saat itu. Bagaimana caranya? Kita semestinya sudah berpikir..tentang kebijakan pembelian alat baru apakah dapatkan mengakomodir IPv6, apakah kita telah mengupgrade kemampuan staff IT dibidang ini…dan banyak lagi.
Any comment is welcome.
Tulisan ini diadaptasi dan diilhami dari Tulisan David Conrad (2011) dari http://www.forbes.com/sites/ciocentral/2011/11/06/time-to-embrace-ipv6-not-to-run-from-it/