Poetic Photography for Environmental Campaign (PPEC): Responses of Urban Communities in the Facebook Media

Tags

, , ,


Poetic Photography for Environmental Campaign (PPEC): Responses of Urban Communities in the Facebook Media

Ahmad Taufik

The School of Engineering and Energy

Murdoch University, Perth – Western Australia

a.taufik@murdoch.edu.au

 ABSTRACT

This article proposes a new technique for an environmental campaign by deploying the use of photography and poetry in a social media Facebook. This new technique is named as Poetic Photography for Environmental Campaign (PPEC). In the initial stage, this study involved several Indonesian enthusiast-professional photographers and participants from wide range of nationalities. Fifty photographs of the PPEC were created and submitted to the Facebook with selected participants, who are living in urban community. Throughout one year observation via the Facebook, eight photo concepts of the PPEC were examined. In data processing, quantitative and qualitative analysis have been used to assess the PPEC. The results (in average values) indicated that the PPEC has opened a great opportunity for enriching environmental campaign method. It is observed that four concepts were successfully attracted responses of the urban communities, namely: (1) Still Life Photography (SLP) with 37 points; (2) Landscape (Lands) with 31.78 points; (3) Future Children (FC) with 30.80 points; and (4) Flora and Fauna (FF) with 30.60 points. However, photos with direct themes of sustainable development and coastal management were not significantly attracting the participants. This condition indicated that the PPEC may require further following up activities such as surveys, photo exhibition, roundtable discussion and expansion networks among photographers, poets and relevant stakeholders.

Keywords: Environmental campaign media, sustainable community development, photography, poetry

slide presentation available here : Poetic Photography for Environmental Campaign (PPEC)

Bagaimana Kalau IP Habis: Analogi Dengan Nomor Telpon

Pasti orang akan setuju kalau Internet dikategorikan sebagai teknologi yang sukses. Terbukti setelah 40 tahun keberadaannya Internet telah terbentang di seluruh dunia. Dampaknya … banyak ….. mulai dampak positif maupun negatif (tapi kita tidak akan membicarakan hal ini secara detil… perhaps sometime) misalnya:  komunikasi jadi lebih mudah…bayar ‘utang’  maupun ngutangpun dapat mudah dilakukan (..I love it), mo ngambil uang.. tinggal pergi ke ATM dengan bermodal ‘kartu plastik’, kirim surat sdh digantii email (tuu kantor pos jadi sepi – perangko sdh sepi pembeli) Buanyaak lagi contoh kegunaanya.

Akibat perkembangan yang sangat pesat ini timbul suatu masalah … apa itu.. coba kita analogikan dengan cerita berikut:

Kota, misalnya Sekayu, berkembang pesat…sehingga nomor telpon dari kode area Sekayu tidak cukup lagi (digitnya sdh kurang). Apa yang akan dilakukan oleh Perusahaan Telpon (Anggap la.. SkyTel).  Ada 4 cara (Conrad, 2011) yang mungkin dapat dilakukan oleh SkyTel yaitu

  • Menghentikan layanan sambungan Baru (waah sayang buangget);
  • Meminta orang/kantor menyediakan layanan extension (berarti pakai PABX);
  • Menginventarisir nomor telpon yang tidak terpakai (idle) dan mengalokasikan kembali untuk pelanggan baru; atau
  •  Menambahkan digit telpon atau kode area.

Kalau dilihat dari fakta yang ada, pilihan ke 4 paling mungkin. Meskipun awalnya ada kebingungan disisi pengguna tapi ini terbukti berhasil.

Nah kita kembali lagi ke cerita Internet. Sekarang ini Internet lebih kurang mengalami hal yang sama dengan analogi diatas. Jumlah alamat yang ada sekitar 4,3 milyar alamat.  Angka yang besar, cuma masih tidak dapat mengakomodir pertumbuhan penggunaan Internet. Diperkirakan tiga-empat tahun kedepan alamat (IPv4 namanya) itu akan habis bahkan APNIC sudah tidak mengalokasikan lagi alamat ini. Jika kita modifikasi pendekatan telpon diatas maka kemungkinannya:

  • Hentikan pertumbuhan Internet;
  • Buat alamat extension (private address);
  • Periksa lagi alamat yang tidak terpakai dan bias dialokasikan ke pelanggan baru; atau
  • Total jumlah alamat diperbanyak.

Pilihan pertama jelas tidak mungkin. Internet terlalu penting (not manis) untuk ‘dilupakan’. Disini muncul perdebatan apakah Jumlah alamat Internet (jumlah IP) harus diupgrade alias ditambah atau cuma perlu penambahan kombinasi private address serta merecover alamat-alamat yang tidak terpakai untuk memenuhi permintaan alokasi baru.

Opsi kedua yang saat ini banyak ditempuh yaitu dengan penambahan extension IP (penambahan IP Private) yang dikenal dengan nama Network Address Translation (NAT). Seperti di banyak kantor, hanya menggunakan satu  no telpon dan diperbanyak menggunakan ekstensi, begitu juga dengan NAT, satu nomor public dipakai secara bersama-sama oleh banyak computer. NAT ini cukup berhasil, kebanyakan pengguna Internet memanfaatkan teknologi ini. NAT berfungsi sebagai ‘operator’ yang mem-forward panggilan ke computer dijaringan Internal.

Permasalahannya, NAT bukan merupakan solusi jangka panjang. It’s ok untuk saat ini (sebagian juga mengatakan ok juga untuk ke depan). Disamping itu, hakekat komunikasi itu adalah hubungan dari satu titik ke titik lain secara langsung… bukan dari satu titik, singgah dulu ke titik tertentu baru disambungkan ke titik tujuan. Belum lagi jika kita lihat dari sisi keamanan, kualias, dan aspek lainnya (kelihatannya nanti kita bahas secara khusus tentang NAT ini …setuju!!). Saya jadi inget ketika teman sekantor ‘mencuri dengar’ percakapan antara teman lainnya dengan someone di luar…. Bahaya tu..  (itu di telpon dengan PABX-nya) semua terdengar jelas….. hal sama sangat mungkin terjadi dengan NAT.

Pilihan ketiga, cari alamat yang tidak termanfaatkan. Secara Etika, barang yang sudah dibeli (..anggap saja) susah la mau dipinta lagi…urusan yang beli la mau dipakai atau tidak. Secara ekonomi, kalaupun orangnya mau..apa mau dia dengan harga yang ‘sincai-la’.  Memang IP sekarang masih tergolong ‘murah’ (lihat APNIC atau IDNIC) cuma itu untuk area tertentu..dan atau coba lihat Microsoft spends $7.5m on IPv4 net addresses (BBC News, 2011). Microsoft menawar $11.25 per alamat IP. Gimana kalau IP memang sudah habiss… berapa bisa harganya ….

Opsi yang terakhir menambahkan jumlah total IP address – ini yang paling menarik juga paling susah. Pertama, paling menarik karena jika kita mengambil contoh penambahan digit telpon tadi, maka sudah terbukti berhasil.  Cuma penambahanan itu tentunya juga ada dampaknya, misalnya perlunya upgrading peralatan, sosialisasi, pelatihan teknisi dll. Kedua susah, perubahan IPv4 ke versi terbaru (IPv6), pasti membutuhkan effort yang tidak sedikit apalagi sebagian besar infrastuktur Internet berbasiskan IPv4 dan IPv6 tidak kompatibel dengan IPv4. Tentu biaya yang sangat besar.  Kalau dari sisi ketersediaan alamat IP tentunya IPv6 sangat jauh dibandingkan IPv4 (4.3 milyar). Bahkan ada yang mengatakan dengan IPv6 (3,4 triliun triliun triliun)  walaupun setiap pasir diberi alamat IP, masih cukup….

Kritiknya, tak sama ya analogi telpon dengan IPv6. Penambahan digit telp kan cuma berimbas di ‘Sekayu’ tadi bukan seluruh dunia. La penambahan Digit IP impactnya ke seluruh dunia. Coba pikirkan …celaka juga kalau kita main internet disamakan dengan nelpon…bisa tambah cepat besar perusahaan telco  manakala tiap akses internet harus SLI or SLJJ terus :-d. (Thanks for the Internet, you have made my communication to all people on around the globe almost free)

Perpindahan IPv4 ke IPv6 hanya menunggu waktu. Semakin internet menjadi besar, maka semakin cepat pula alamat yang tersisa ..habis. Permasalahannya, apakah kita harus menunggu dulu habis..baru pindah. Jawaban yang bijak tentunya kita harus mengantisipasi datangnya saat itu.  Bagaimana caranya? Kita semestinya sudah berpikir..tentang kebijakan pembelian alat baru apakah dapatkan mengakomodir IPv6, apakah kita telah mengupgrade kemampuan staff IT  dibidang ini…dan banyak lagi.

Any comment is welcome.

Tulisan ini diadaptasi dan diilhami dari Tulisan  David Conrad (2011) dari http://www.forbes.com/sites/ciocentral/2011/11/06/time-to-embrace-ipv6-not-to-run-from-it/

Menilik Internet Protocol

Tidak heran kalau pengguna Internet tidak terlalu mengenal Internet Protocol, atau lebih dikenal IP. Tapi bila disebutkan Facebook, Twitter, Google, Yahoo, dan banyak lagi istilah yang ‘ngetop’ di Internet… mungkin 99,99% menjawab ‘itu mah kawan akrab saya…….’. Mengapa.. ? jawaban sederhana dari kasus ini yaitu karena end user memang secara langsung berhubungan dengan istilah ngetop tadi, tidak halnya dengan IP itu sendiri. Apalagi dengan konfigurasi otomatis, end user tanpa susah-susah mengkonfigurasi IP, sudah bisa surfing di Internet. Padahal untuk biasa berselancar di Internet, sudah pasti alat yang dipakai (misalnya: Desktop, Laptop, Smartphone, Tablet Computer… mungkin juga kulkas)    itu memiliki IP address.

Nah melalui tulisan ini, coba kita lihat kembali apa itu Internet Protocol, apa pula fungsinya…. dan sejarah keberadaannya. Tulisan ini merupakan rangkaian awal dari tulisan tentang  IP itu sendiri.

Ok, pertanyaan pertama apa itu Internet Protocol alias IP? 

IP merupakan pondasi (Cannon, 2010) atau tulang punggungnya Internet. IP menjadi penghubung antara aplikasi (disini end user biasanya ‘bermain’) dengan perangkat phisik (contohnya kabel) yang menghubungkan satu titik satu dengan titik lainnya.  Selanjutnya dengan adanya IP ini, data… (ada baiknya nanti kita sebut paket … kita akan diskusikan lebih lanjut di topic yang lain) dari satu sumber ke sumber lain dicarikan rutenya sehingga paket tadi sampai di tujuan. Dengan kata lain, IP bertugas menentukan rute (routing) yang harus ditempuh suatu paket dari alamat asal ke alamat tujuan.

Lha kok bisa nyampe…. Nah inilah fungsi IP, beliau yang mengatur rute-rute yang harus ditempuh oleh paket kapan harus belok kiri kapan harus belok kanan (emang..mobil) … boleh masuk atau tidak berdasarkan informasi yang ada didalam paket tadi. Si pengatur dikenal dengan nama router .

Selanjutnya, siapa yang buat IP itu, and more?

IP yang kita pakai sekarang ini disebut IPv4 pertama kali dirilis tahun 1978. Bob Kahn dan Vint Cerf merupakan orang yang berjasa mengembangkannya protocol ini. Secara resmi menggantikan protocol sebelumnya (NCP) pada 1 Januari 1981. IPv4 memiliki alamat sampai 4 milyar IP address… Angka yang besar..apalagi pada saat itu. Apakah masih cukup untuk saat ini dan kedepan…itu akan jadi topic selanjutnya.  IPv4 telah terbukti sukses sebagai protocol yang menjadikan Internet seperti sekarang ini.

Siapa pula yang jadi ‘boss’ yang mengatur alokasi ini?

Nama organisasinya ICANN (Internet Corporation for Assigned Names and Numbers) yang melalui IANA (Internet Assigned Number Authority) mendistribusikan blok alamat tadi ke 5 RIR (Regional Internet Registries):

  • African Network Information Centre (AfriNIC),
  • American Registry of Internet Numbers (ARIN),
  • Asia Pacific Network Information Center (APNIC),
  • Latin American and Caribbean IP Address Regional Registry (LACNIC)
  • Réseaux IP Européens Network Coordination Centre (RIPE NCC).

Selanjutnya IP tadi di distribusikan kembali ke LIR (Local Internet Registry) atau dikenal juga dengan nama NIR (National Internet Registry).  Di Indonesia, NIR ini dikenal dengan nama IDNIC. Baru setelah itu didistribusikan ke ISP dan end user. Apakah harus seperti itu jenjangnya? Jawabnya tidak, pengguna atau ISP dapat langsung by pass ke level sebelumnya dengan syarat dan ketentuan berlaku (lihat aturan di IANA, APNIC atau IDNIC)

Bersambung ……? …. Kita lanjutkan nanti..bosen juga nanti..

Reference:

Cannon, Robert. (2010). Potential Impacts on Communications fromIPv4 Exhaustion & IPv6 Transition.

My very first Time

This is the very first time I post something here.

La kok bisa seperti itu…memang baru belajar komputer, belajar ngeblog, ya?

Mungkin akan ada yang merespon judul ini dengan pertanyaan yang senada dengan pertanyaan diatas….

Memang harus diakui, saya termasuk orang yang tidak rajin berbagi ‘sesuatu di Internet’. Buka Internet paling ngecek email, browsing2…sekali2 maen game online. Kalaupun ada blog… itu lebih untuk mengenang masa ‘perjuangan di sekolah’ dulu http://ikaslom.blogspot.com/. Tetapi, setelah itu saya berpikir penting berbagi sesuatu… baik itu ilmu, kegembiraan dan mungkin juga kekecewaan……. (:-d) ..

Semoga apa yang dimulai hari ini menjadi sesuatu yang berguna…dan memberi manfaat bagi semua.

 

 

 

 

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.